August 25, 2021 By posotonexeis.org 0

HUKUM MENGAQIQAHKAN ANAK SETELAH UMUR 3 TAHUN

HUKUM MENGAQIQAHKAN ANAK SETELAH UMUR 3 TAHUN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak sesudah umurnya 3 tahun? Saya dulu baca hadis sahih nya saat pelaksanaan aqiqah anak itu di hari ke 7/14/21 hari. Sementara si orang tua belum tersedia rejeki yang cukup untuk belanja hewan qurban tersebut. Ketika anaknya usia 3 tahun tersedia rejeki dan tekad untuk mengaqiqahkan anak tersebut. Bagaimana hukumnya secara syar’i.? Terimakasih.
Nama Ullyatha
Kota kabupaten Cikarang Bekasi

Jawaban :
Oleh: Ust. Fadhlan Akbar, Lc., M.H.I.
(Ketua Komisi Usrah dan Ukhuwah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Untuk saudari Ullyatha semoga Allah merahmati anti sekeluarga dan kita semua.
Hukum aqiqah menurut pendapat mayoritas ulama, adalah sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan wejangan pelaksanaanya) doa aqiqah .

Pendapat ini diriwayatkan berasal dari Ummul Mukminin Aisyah -radhiyallahu ‘anha- dan juga sebagian kawan dekat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seperti :

Ibnu Abbas dan Ibnu Umar – Radhiyallahu ‘anhum-, terhitung pendapat yang dianut oleh mayoritas Mazhab Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabilah.

Dalil yang menjadi pegangan Jumhur Ulama, adalah Hadits Rasulullah shalallahu’alahi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab beliau Al Muwattha’ (no. 1441):
مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسَكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ
Artinya : Jasa aqiqah Jakarta dan Bekasi
Barang siapa yg dikaruniakan kelahiran seorang anak, selanjutnya ia bahagia untuk memotongkannya sembelihan (domba/ kambing ), maka hendaklah ia melakukannya.

Waktu pelaksanaan aqiqah sesudah kelahiran bayi adalah terhadap hari ketujuh kelahirannya, ini adalah saat yang paling ideal dan sangat dianjurkan, sebab cocok bersama dengan saat yang disebutkan dalam hadits Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق ويسمّى
“Setiap bayi laki laki tergadaikan oleh aqiqahnya, disembelihkan untuknya terhadap hari ketujuh selanjutnya dicukur dan diberi nama.” (H.R. Abu Daud no. 2837, Tirmidzi no. 1522, Nasai no. 4220 dan Ibnu Majah no. 3165)

Namun jikalau terhadap hari selanjutnya papa bunda bayi itu belum punyai kebolehan biaya untuk jalankan aqiqah, maka ia boleh menunda pelaksanaanya terhadap hari ke 14 atau hari ke 21 lebih-lebih terhadap hari- hari selanjutnya dimana ia beroleh kelapangan materi.
Imam Ibnu Qudamah berbicara :
فإن فات الذبح في السابع، ففي أربع عشرة، فإن فات، ففي إحدى وعشرين، وهذا قول إسحاق؛ لأنه روي عن عائشة -رضي الله عنها- والظاهر أنها لا تقوله إلا توقيفاً. فإن ذبح قبل ذلك، أو بعده، أجزأ؛ لحصول المقصود بذلك. فإن تجاوز إحدى وعشرين، احتمل أن يستحب في كل سابع، فيجعله في ثمان وعشرين، فإن لم يكن، ففي خمس وثلاثين، وعلى هذا قياساً على ما قبله، واحتمل أن يجوز في كل وقت؛ لأن هذا قضاء فائت، فلم يتوقف، كقضاء الأضحية.
“Jika penyembelihan aqiqah tidak bisa dilaksanakan terhadap hari ke- 7, maka di hari ke- 14, jikalau luput, maka di hari ke- 21. Ini merupakan pendapat Ishaq, sebab sudah diriwayatkan perihal senada berasal dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan tentu saja Aisyah tidak berpendapat seperti itu jikalau suatu hal yang bersifaf Tauqifiyah ( hingga kepada Rasulullah ). Dan jikalau ia menyembelih aqiqah sebelum saat hari itu ( hari ke-7) atau setelahnya, maka perihal itu sudah memadai, sebab bersama dengan sembelihan itu obyek berasal dari syariat ini sudah terpenuhi. Namun jikalau sudah melampaui hari ke- 21, maka tersedia barangkali aqiqah direkomendasi untuk dilaksanakan terhadap setiap kelipatan 7 hari setelahnya. Itu berarti ia jalankan di hari ke 28, dan jikalau belum terhitung mampu, maka di hari ke 35 dan selanjutnya seperti itu dilaksanakan terhadap hari- hari selanjutnya yaitu diqiyaskan bersama dengan hari sebelumnya ( memanfaatkan kelipatan 7 hari ). Dan tidak menutup barangkali aqiqah bisa dilaksanakan di hari apa saja ( sesudah lewat berasal dari hari ke-21), sebab ini terhitung pelaksanaan qadha suatu ibadah yang terluput pelaksanaanya, agar tidak terputus/ terhenti waktunya, seperti halnya mengqadha pelaksanaan sembelihan qurban.” (Al-Mughni: 9/461)